Selayang Kisah-ku, dan pergerakan di Fakultas Kuning Emas
2017, tepatnya di bulan 9 akhir, saya memulai masa menjadi Seorang mahasiswa, strata tertinggi tingkatan pelajar dinegeri ini. Saya kebetulan lulus di jurusan ilmu perpustakaan yang berada di fakultas adab & humaniora UIN Alauddin Makassar.
Sebelumnya Saya tidak pernah mendengar nama fakultas tempat jurusan saya itu bernaung, karena Memang kampus-kampus PTKIN (Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri) seperti UIN, IAIN, dan STAIN, memiliki sedikit perbedaan nama fakultas dengan beberapa kampus PTN (Perguruan Tinggi Negeri) maupun PTS (Perguruan Tinggi Swasta) yang selama ini menjadi tempat saya mencari informasi mengenai kampus.
Sebagai mahasiswa baru, muncul rasa keingintahuan lebih dalam tentang dunia kampus, dan juga dunia organisasi. mulailah saya mengumpulkan empiris saya dengan memasuki organisasi baik intra kampus, maupun ekstra. Organisasi kedaerahan (ORGANDA) menjadi organisasi pertama yang saya tempati untuk menerpa diri, kemudian di semester 3 saya memutuskan bergabung di Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) dan disinilah saya mengabdikan diri sampai saat ini.
Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) merupakan organisasi yang kurang familiar di fakultas saya ketika saya masih Mahasiswa baru, saya tidak pernah melihat spanduk mereka di fakultas ataupun sosialisasi senior-senior PMII ke kelas saya. Belakangan setelah saya sudah sedikit tahu tentang kondisi fakultas, baru saya menemukan fakta bahwa pada tataran organisasi intra (HMJ, DEMA, SEMA) semua ketuanya berasal dari salah satu organisasi ekstra yang juga bernaung di fakultas saya. Dan inilah salah satu sebabnya mengapa PMII kurang terdengar dan terlihat eksistensinya di hadapan mahasiswa baru, telah terjadi sebuah permainan licik dilakukan oleh mereka yang memiliki wewenang untuk mengurusi para mahasiswa baru dalam PBAK (Pengenalan Budaya Akademik Kampus).
Karena organisasi intra (DEMA, SEMA, HMJ) yang mempunyai otoritas sebagai pelaksana PBAK, makanya mereka memanfaatkan kekuasaan superiornya dalam lingkup intra tersebut untuk menjegal gerakan organisasi ekstra selain organisasi mereka, dengan cara doktrinasi kepada maba tentang organisasinya, lewat nyanyian (yel-yel), dan simbol-simbol atau perangkat PBAK, dan bahkan sampai pada paksaan secara langsung, yang mengarahkan mahasiswa baru pada asumsi bahwa fakultas adab & humaniora hanya terdapat satu organisasi ekstra, yang nyatanya ada banyak organisasi (ekstra) yang bernaung di dalam fakultas. Saya pun bukan tidak terpengaruh dengan hal tersebut, hasilnya saya pun sempat ikut dalam pengkaderan (kaderisasi) organisasi ekstra itu, tetapi kemudian saya memilih keluar karena beberapa sebab dan salah satunya ketika saya mulai menyadari permainan licik dan tindakan diskriminatif yang mereka lakukan terhadap organisasi lain. kondisi ini bukan hanya saya yang mengalaminya, melainkan ada banyak yang saya temui teman seangkatan saya di fakultas yang juga ikut keluar, dan mencari tempat pengembangan jatidirinya di tempat lain.
Memulai proses di PMII, memulai proses penemuan fakta-fakta baru tentang bagaimana kondisi kehidupan organisasi ekstra dalam fakultas tersebut. itulah yang saya alami, asumsi saya bahwa penindasan terhadap minoritas kadang kala hanya terjadi dalam ranah agama, etnis/suku, dan warnah kulit, ternyata dalam ranah organisasi pun hal demikian terjadi, yang nyatanya kita se-agama, se-suku, dan se-warnah kulit. Dari hal ini asumsi saya pun berubah, menjadi yang namanya minoritas dalam hal apapun akan mengalami diskriminasi, dengan ragam bentuknya masing-masing.
pencurian dan perusakan spanduk adalah salah satu tindakan diskriminatif yang paling sering kami alami di fakultas ini, dan yang paling sering lagi adalah pencurian spanduk. Spanduk apapun itu, baik penyambutan Maba, sampai spanduk ucapan selamat wisudah, atau sederhananya spanduk yang terdapat logo PMII siap-siap saja untuk hilang atau dirusak.
pencurian dan perusakan spanduk adalah salah satu tindakan diskriminatif yang paling sering kami alami di fakultas ini, dan yang paling sering lagi adalah pencurian spanduk. Spanduk apapun itu, baik penyambutan Maba, sampai spanduk ucapan selamat wisudah, atau sederhananya spanduk yang terdapat logo PMII siap-siap saja untuk hilang atau dirusak.
Sebenarnya kami bukan tidak tau siapa pelakunya (orangnya), bukti dan saksi kami sudah ada, tetapi percuma rasanya bila harus mengadu ke DEMA ataupun SEMA yang dalam hal ini lembaga legislatif fakultas, hanya akan menghasilkan debat berkepanjangan yang tetap tidak akan berpihak kepada kami, atau kalaupun ada kebijakan yang dihasilkan, itupun hanya bersifat semu. Pernah DEMA beralasan mungkin kami tidak melapor terlebih dahulu sebelum memasang spanduk, makanya di lepas. Kalau pun demikian, tidak seharusnya DEMA semena-mena melepas tanpa ada teguran atau peringatan sebelumnya, mestinya pemahaman dan kedewasaan berorganisasi mereka sudah tidak membuat mereka bertindak demikian.
Setelah beberapa alasan kami terima, pada tahun 2019 tepatnya penyambutan mahasiswa baru angkatan 2019, kami mencoba mengikuti arahan mereka, kami melapor terlebih dahulu, kemudian kami di arahkan ke tempat pemasangan spanduk kami. Tetapi hal itu tidaklah menjamin keutuhan spanduk kami, malam pertama setelah kami meninggalkan kampus pukul 23.00, entah siapa yang datang merusaknya, pada pagi harinya kami mendapati beberapa spanduk kecil (umbul-umbul) kami hilang, dan beberapa diantaranya rusak. Dan inilah kondisi yang kami hadapi setiap tahunnya.
Belum lagi penjegalan ketika kami melakukan sosialisasi, dengan ribuan dalih akal-akalan mereka, yang paling lucu ketika pihak HMJ mengatakan bahwa mahasiswa baru itu tanggung jawab mereka, mereka yang mengatur kemana langkah mereka selanjutnya. Dari sini tergambar betapa kebebasan mereka dipenjara dengan otoritas dan dalih-dalih senioritas. Segala cara mereka lakukan untuk menutup gerakan kami. Semakin memperlihatkan betapa takutnya mereka kehilangan kekuasaan dengan persaingan secara sehat.
Segala macam tindakan diskriminatif itu nyatanya tak pernah membuat gerakan kami berhenti, namanya juga pergerakan, kami akan tetap bergerak melewati segala macam rintangan itu. Justru saya sendiri menganggap segala tindakan tersebut sebagai bahan bakar, bahan bakar yang akan terus membakar semangat pergerakan kami, memperlihatkan eksistensi kami di fakultas tercinta ini.
Setiap yang bergabung dalam pergerakan, ia telah memerdekakan dirinya. Inilah kalimat yang sempat saya ucapkan kepada sahabat(i) ketika mapaba dulu. Bahwa ketika anda memilih untuk bergabung di Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia, anda telah memerdekakan diri dari cengkraman senioritas, cengkraman penguasa otoriter. Itulah realitas yang ada, dimana mahasiswa baru selalu dalam kungkungan oknum yang mengatasnamakan senior dan lembaga untuk memperdaya mereka yang masih belum mampu melihat kondisi.
Saat ini, PMII Rayon adab & Humaniora sudah hampir genap 1 dekade. Sebuah perjuangan yang tak mudah hingga bisa sampai pada titik sekarang ini. senior sekaligus perintis rayon kami pernah bercerita tentang bagaimana perjuangan ia mendirikan dan menggerakkan organisasi ini yang hanya bermodalkan dirinya dan satu lagi temannya. Purnama demi purnama berlalu akhirnya ia pun bisa membentuk rayon adab & humaniora, ia pun dilantik sebagai ketua dan beberapa pengurus yang hanya terhitung jari. Perjuangan tanpa henti telah mengantarkan PMII adab & humaniora pada fase sekarang ini, jumlah anggota dan kader kami tidak lagi menjadi minoritas, kami yakin akan ada masa dimana kejayaan itu akan kami raih, dengan doa dan ikhtiar maksimal mengantarkan kita pada kejayaan yang didambakan.


Tangan terkepal dan maju ke muka 💙💛
BalasHapus