COVID-19 DIANTARA KEMUDHARATAN DAN KEMASLAHATAN


            Pasa awal tahun 2020 yang lalu, Dunia digemparkan dengan pemberitaan munculnya penyakit mematikan di daerah Wuhan, Provinsi Hubei, China. Penyakit yang disebabkan oleh virus yang diberi nama Covid-19 (Coronavirus Disease 2019), menyerang sistem pencernaan dan pernafasan ini ternyata sudah ada sejak september 2019, dan baru terdeteksi diawal tahun 2020.

Penyebaran virus ini sangat cepat, hanya dalam beberap bulan sudah merambah keseluruh belahan dunia, pada saat tulisan ini dibuat pertanggal 27 April 2020, tercatat 213 terkonfirmasi kasus Covid-19, sebanyak 2.810.325 jiwa positif, 193.825 meninggal dunia. Indonesia pun tak luput dari cengkraman virus ini, tercatat 9.096 positif, 1.152 dinyatakan sembuh, dan 765 meninggal dunia, berdasarkan data dari COVID-19.GO.ID KOMINFO Via Whatsapp dan https://covid-19.go.id/situasi-virus-korona/.

Dari luasnya penyebaran virus ini, dan banyaknya korban, membuat WHO (World Healty Organisation) menaikkan status virus ini menjadi pandemi ( wabah yang persebaran geografisnya sangat luas).

Mulailah hari-hari kita dipenuhi dengan pemberitaan seputar Covid-19 ini, baik media online maupun konvensional seakan berkompetisi menyajikan informasi kepada masyarakat. Mendominasi adalah dampak Covid-19,  baik dampak buruk (kemudharatan) maupun dampak baik (kemaslahatan) kehadiran virus ini. Dan berikut kita akan ulas dampak Covid-19 yang saya rasakan dalam realitas kehidupan.

Dampak Buruk (kemudharatan) :

            Ratusan ribu jiwa meninggal dunia, jutaan jiwa terkonfirmasi positif terjangkit Covid-19, memperlihatkan betapa ganasnya virus ini, ia tidak memandang usia,  jenis kelamin, warna kulit , agama, dan bahkan teritorial wilayah pun tak menjadi batasannya. Kecemasan menyelimuti hari-hari kita, ketakutan akan terjangkit virus ini, terlebih ketika di negara kita sudah terkonfirmasi kasus positif, dan bahkan jika ternyata di daerah (Kota/Kabupaten) tempat kita tinggal sudah ada kasus terkonfirmasi positif Covid-19. Ragam upaya dilakukan demi memutus mata rantai penyebarannya, dari memakai masker, rajin mencuci tangan, mejaga imunitas tubuh, sosial distancing / physical distancing, dan bahkan sampai pada Lockdown (penutupan) suatu negara atau wilayah.

            Sekarang ini, dampak buruk Covid-19 mulai kita rasakan, beberapa aspek kehidupan masyarakat terjangkit dampak buruknya, mulai dari Ekonomi, Pendidikan, dan bahkan Agama pun tak lepas dari dampaknya. Penerpan sosial distancing memaksa kita untuk lebih banyak berada dirumah, dan bahkan beberapa pekerjaan dikerjakan dari rumah, berdampak pada menurunnya kondisi perekonomian kita, terutama bagi yang berpencaharian harian seperti tukang ojek (online/konvensional), sopir angkot, tambal ban, tukang parkir, toko yang bukan menjual kebutuhan pokok, dan masih banyak lagi lainnya mengalami penurunan pendapatan akibat berkurangnya orang-orang beraktifitas di luar rumah, dan pola konsumsi masyarakat yang berubah, mengutamakan pembelian bahan pokok. Dan dampak terparah yang dirasakan beberapa masyarakat adalah yang terkena pemotongan gaji (pendapatan) dan bahkan yang sampai terkena PHK (Pemutusan Hubungan Kontrak) karena berkurangnya pendapatan (pemasukan) perusahaan / tempat kerjanya akibat menurunnya dan berubahnya pola konsumsi masyarakat, sehinggah ia tidak lagi mampu membayar gaji pegawainya.

Saya pun meraskan hal tersebut, dimana sebelumnya saya juga menjadi driver ojek online, harus rela mengalami penurunan pendapatan yang signifikan akibat masyarakat yang dirumah saja, dan ketika situasi di makassar sudah masuk Zona merah (daerah dengan kasus positif yang tinggi) penulis pun memutuskan untuk berhenti dan pulang kampung demi mencegah terjangkit Covid-19 ini. Keluarga dikampung pun merasakan dampaknya, saudara ibu saya yang bekerja sebagai pembuat batu merah (batu batah) harus menelan kenyataan pahit dimana tidak adanya orang yang datang menawari /membeli batunya. Tetangga saya yang menjadi penjual makanan di tempat wisata harus menutup kedainya karena penutupan tempat-tempat wisata. Dan masih banyak lagi masyarakat yang terdampak secara finansial (ekonomi) dengan kisah yang beragam yang tentu semakin membuat kita khawatir akan keberlangsngan hidup kita.

Selanjutnya dampak terhadap pendidikan, kemunculan Covid-19 memaksa proses belajar mengajar beralih dari tatap muka langsung ke proses belajar online atau belajar dari rumah. Semua tingkatan pendidikan diberlakukan hal yang sama dan sampai saat ini belum ada titik cerah kapan proses belajar mengajar seperti biasa akan kembali dilakukan, melihat situasi dan kondisi yang belum mampu diprediksi kapan akan membaik.

Kuliah dari rumah atau kuliah online sangat jauh dari kata efekti dan sangat tidak efisien, saya merasakan bagaimana kuliah online hanya seputaran  pemberian tugas-tugas oleh dosen dan kemudian kita kerjakan di rumah masing-masing, bagus kalau kita masih menggunakan akal kita untuk berpikir mencari jawaban tugas tersebut, atau membaca buku-buku untuk menemukan jawabannya. kebanyakan dan termasuk saya juga kadang-kadang hanya langsung copy-paste dari google. Diskusi lewat media juga itupun sangat tidak jelas arah diskusi, mengemukakan pendapat yang terbatasi, dan tidak ada tekanan untuk kita mampu mengelolah dan meningkatkan intelektualitas dan kecakapan beretorika. Belum lagi kendala pada stabilitas jaringan, melihat beberapa daerah belum terlalu baik dalam hal jaringan internet, terutama daerah-daerah pegunungan dan terpencil.

Belum lagi pada tingkatan siswa (SD, SMP, SMA), realitas yang ada dilingkungan saya memperlihatkan hal yang sangat memprihatinkan, mereka yang sebelumnya masih sekolah sepeti biasa, ketika pulang kerumah hampir tidak ada yang pernah belajar di rumahnya, kini hampir sudah tidak ada lagi waktunya untuk belajar setelah sekolah-sekolah diliburkan (sistem pembelajaran tatap muka) dan beralih kepada sistem belajar dari rumah (study from home). Mereka yang mestinya harus semakin intens belajar justru sebaliknya, dan diperparah oleh orang tua yang juga acuh melihat kondisi anaknya demikian. Kesadaran orang tua yang kurang semakin menjerumuskan anak-anak kedalam jurang kebodohan. Hal ini pun terjadi dalam lingkup keluarga saya (saudara orang tua) yang acuh saja akan hal tersebut.

Dampak lain dari Covid-19 ini pada bidang keagamaan, karena penyebaran (perpindahan) virus ini dengan melalui kontak fisik, mengakibatkan semua kegiatan kegamaan baik ibadah dan kegiatan keagamaan lainnya ditangguhkan sementara, melihat kegiatan ibadah dan keagamaan lainnya menghadirkan banyak orang dari berbagai daerah, resiko terkena (tertular) virus lebih tinggi. Fatwa MUI untuk tidak mengadakan shalat jumat bagi umat islam, tarawih dimesjid dan lainnya yang diganti dengan beribadah dirumah sebagai langkah untuk mencegah penularan covid-19 ini. Walaupun dasar fatwa tersebut jelas, ada landasan hukumnya dalam ajaran islam, tetap saja menimbulkan perpecahan dimasyarakat, masih terdapat beberapa daerah yang ngotot (keras kepala) untuk tetaap melaksanakan shalat berjamaah di mesjid, seakan mereka tidak percaya dengan pemerintah dan fatwa MUI, tentu hal ini semakin mensektekan orang-orang muslim dinegeri ini, dan menjadi ancaman serius kedaulatan negara apabila masyarakat sudah tidak percaya lagi terhadap pemerintah dan ulama-ulama dinegeri ini, dan kondisi ini pun saya temui dilingkungan tempat tinggal penulis, beberapa orang yang terbawa nafsu keberagamaan menolak dengan lantang fatwa MUI ini dengan dasar cocoklogi dan menjurus kepada kebiasaan semata tanpa ilmu agama yang jelas.

Dampak Baik (Kemaslahatan) :

            Di balik dampak buruk covid-19 yang banyak dirasakan dan diberitakan, terdapat hikmah atau dampak baik dari munculnya covid-19 yang juga patut untuk disyukuri. Seperti yang tuhan katakan dalam firmannya, segala yang ia ciptakan selalu berpasang-pasangan, begitupun keburukan, berpasangan dengan kebaikan, dimana ada keburukan, disitu ada kebaikan yang terselip.

            Dampak baik (kemaslahatan) kehadiran covid-19 yang paling besar saya rasakan adalah dalam hal keluaga, hubungan kekeluargaan kami semakin erat, dengan banyaknya waktu yang dihabiskan bersama dalam rumah membuat hubungan yang sebelumnya sempat renggang akibat beberapa anggota keluarga (saya dan saudara (i) ) berada diluar daerah untuk menempuh pendidikan, pulang kampung hanya beberap kali tiap tahunnya. momentum covid-19 ini membuat kami bisa lebih lama bersama. Begitupun dengan keluarga lainnya (paman, tante, sesepu) yang kebetulan tidak terlalu berjarak dengan rumah penulis, bisa setiap saat berkunjung kerumahnya.

            Terlebih lagi dalam bulan ramadhan tahun ini, untuk pertama kalinya setelah 4 tahun saya akan menghabiskan satu bulan penuh ramadhan dirumah, makan sahur pertama bersama bersama keluarga adalah momentum yang sangat nikmat yang selalu kita nantikan dan dambakan, menikmati masakan khas ibu, cita rasa makanan yang selalu dirindukan tiap anak, dan yang lebih spesial lagi dengan adanya himbauan untuk beribadah dirumah, membuat kami beribadah bersama di rumah yang semakin menambah erat kebersamaan.

            Manfaat selanjutnya yang saya rasakan adalah peningkatan religiusitas, di mana sebelumnya, saya masih sering bolong dalam shalat, dan bahkan kadang seharian tidak pernah shalat akibat kesibukan akademik, organisasi dan ditambah rasa malas juga. Sekarang, karena saya kebanyakan dirumah, maka intensitas beribadah saya meningkat karena adanya kontrol orang tua yang setiap saat mengingatkan dan mengajak untuk beribadah.

            Dampak lain juga yang saya rasakan dan juga mungkin orang lain rasakan adalah  bagaimana ketidak adilan Gender (Gender inequalities) dalam hal ini beban kerja ganda (Double burden) dalam kajian gender, dimana anggapan pekerjaan domestik (urusan rumah tangga) adalah kodrati perempuan tidak lagi berlaku. Karena banyaknya waktu di rumah, saya, saudara dan juga bapak saya lebih sering membantu Ibu dalam hal pekerjaan rumah tangga, seperti membersihkan rumah, mencuci pakaian (dengan mesin cuci), memasak dan menyiapkan makanan, dan lainnya. Hal ini memberikan renungan kepada saya selaku kaum adam dan selaku anak betapa beratnya pekerjaan domestik rumah tangga yang sering dikerjakan ibu sendirian, dan memutus kepercayaan bahwa rana domestik (pekerjaan dan urusan rumah tanggah) adalah kodrati perempuan, nyatanya saya pun bisa melakukan kegiatan-kegiatan tersebut, karena memang persoalan tersebut adalah konstruksi kebudayaan masyakarakat.

            Selain dampak (baik) dalam hal keluarga, dampak lain yang juga saya rasakan dan kiranya ini sangat berharga untuk kita semua adalah pada aspek lingkungan. Dengan hadirnya covid-19 ini yang memaksa manusia untuk mengurangi aktifitas diluar rumah mengakibatkan kondisi udara dunia dan indonesia secara umum lebih baik dari sebelumnya, baiknya kualitas uara ini tak lepas dari kebijakan sosial distancing, anjuran untuk dirumah, dan lockdown beberapa negara atau wilaya yang mampu menekan polusi dari asap pembakaran kendaraan, pabrik, dan lainnya menjadi penyebab baiknya kualitas udara. Saya pun merasakan hal demikian di kampung saya, cuaca cenderung tidak terlalu menyengat di saat terik, dan juga pohon-pohon yang ada di sekitar kampung saya lebih hijau dari sebelumnya.

            Masih banyak lagi dampak (buruk maupun baik) yang dirasakan tiap individu maupun kelompok di lokasi yang berbeda. Ada banyak kisah terukir menjadi sebuah sejarah kehidupan kita semua. Tinggal bagaimana kita memposisikan diri dalam memandang kehadiran Covid-19 ini. Dari segi agama, hadirnya Covid-19 ini sejatinya menjadi teguran tuhan untuk bagaimana kita muhasabah diri atas segala tingkah laku kita selama ini. dari segi politik, kehadiran covid-19 menjadi teguran dan perlawanan terhadap kerakusan kaum borjuais kapitalisme yang sudah sangat banyak menyiksa manusia kelas-kelas bawa lewat ekploitasinya. dari segi pendidikan, mengubah mindset kita tentang belajar yang selama ini terkungkung sebatas dalam ruang kelas saja, antara guru dan murid, antara dosen dan mahasiswa, menjadi belajara ternyata dapat dilakukan dimana saja, kapan saja, media apa saja, dan yang paling penting mengajarkan kemandirian dalam belajar.

            Akhir kata, ditengah pandemi covid-19 ini, mematuhi ajuran dan himbauan pemerintah, tokoh agama, dan lainnya adalah cara bagaimana menyelamatkan diri kita dan orang lain dari keganasan virus ini, semoga kita selalu dalam keadaan sehat dan senantiasa dalam lindungan allah swt.





Penulis : Nur Rahmat (Mahasiswa Jurusan Ilmu Perpustakaan UIN Alauddin Makassar dan Aktif Ber-PMII)

Komentar

Postingan Populer